Dwi Fitriani

Just another Student.mb.ipb.ac.id Blogs site

Peranan dan Risiko Pengembangan Sistem Informasi dengan Outsourcing

  • Juli 11, 2010 6:42 pm

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penerapan Sistem Informasi pada sebuah organisasi khususnya diyakini dapat meningkatkan daya saing dengan cara memberikan nilai tambah pada produk dan layanan yang dihasilkannya. Peningkatan daya saing ini sangat diperlukan mengingat tantangan yang muncul akibat penerapan sistem perdagangan bebas menuntut setiap bisnis untuk bisa menghasilkan produk dan layanan yang lebih berkualitas dengan harga murah.

Dalam era yang semakin kompetitif, proses digitalisasi perusahaan tampaknya tidak dapat ditawar lagi. Persoalannya, upaya apa yang dapat ditempuh perusahaan agar dapat diperoleh aplikasi Sistem Informasi (SI) untuk menjamin aliran data dan informasi secara kontinyu. Sedikitnya ada tiga alternatif yang secara umum dapat diterapkan untuk memperoleh SI tersebut, antara lain 1) membeli aplikasi jadi, 2) insourcing dan 3) outsourcing. Dari ketiga alternatif tersebut, tampaknya outsourcing paling tepat untuk diterapkan bagi perusahaan yang memiliki prosedur yang unik, tetapi memiliki keterbatasan waktu dan tenaga ahli, serta kedisiplinan anggaran  untuk menghasilkan sistem yang standar.

Penggunaan sistem teknologi informasi pada organisasi masa kini cenderung menggunakan sisem outsourcing dan mulai meninggalkan pengembangan sistem teknologi informasi secara inhouse. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh MetaGroup pada tahun 2003, hal terutama disebabkan karena organisasi modern cenderung bersifat ramping dan mengejar efektifitas dan efisiensi, sehingga organisasi cenderung untuk lebih fokus kepada core business-nya.

Peningkatan kebutuhan IT telah merubah konsep tradisional menjadi konsep yang lebih modern. Konsep tradisional menyatakan, semua aktivitas perusahaan akan dikerjakan secara internal, sedangkan konsep modern menyatakan akan semakin sedikit operasional kerja yang dilakukan secara internal (Burn dan Ash, 2000; Georgantzas, 2001; Tetteh dan Burn, 2001). Konsep modern tersebut menggambarkan bahwa fungsi bisnis dalam perusahaan yang memberikan keunggulan bersaing saja yang harus dikerjakan secara internal, namun fungsi bisnis lainnya dalam perusahaan dapat dlakukan secara outsourcing (Ching et al. 1996). Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan perusahaan secara outsourcing diantaranya adalah aktivitas bisnis yang berhubungan dengan sistem informasi manajemen (Reyes, et al. 2005).

1.2. Permasalahan Pembahasan

Outsourcing telah menjadi tren utama dalam bisnis selama 20 tahun terakhir (Wright, C. 2004). Ada banyak fungsi organisasi yang dapat Outsource, termasuk sumber daya manusia, layanan pelanggan dan fungsi informasi teknologi perusahaan. Meskipun outsourcing bisa sangat menguntungkan, ada sejumlah perusahaan harus mempertimbangkan risiko ketika mengevaluasi penggunaan sebuah perusahaan outsourcing.  Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institut Manajemen Informasi pada Universitas dan Universitas Missouri di Amerika Serikat tahun 2000, terdapat  29 kontrak outsourcing utama lebih dari delapan tahun, melaporkan bahwa lebih dari 35 persen dari pengaturan dinyatakan gagal[1]. Oleh karena itu, kegagalan hubungan outsourcing bukan hal yang wajar sehingga suatu organisasi harus menyadari potensi resiko yang terlibat sebelum masuk ke dalam suatu hubungan kontrak dengan sebuah thirdparty perusahaan outsourcing.

1.3. Tujuan

Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan dari pengembangan sistem informasi secara outsourcing dibandingkan dengan insourcing.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Nilai Outsourcing

Outsourcing menjadi salah satu solusi yang paling sering digunakan untuk mengembangkan suatu Sistem Informasi pada suatu perusahaan karena dengan outsourcing suatu perusahaan akan lebih fokus pada bisnis inti.

Sistem Informasi (SI) Outsourcing berarti bahwa sumberdaya fisik dan / atau sumber daya manusia yang berhubungan dengan Teknologi Informasi satu organisasi (ITS) yang diberikan dan / atau dikelola oleh penyedia khusus eksternal. Situasi ini dapat bersifat sementara atau untuk jangka waktu tertentu dan dapat mempengaruhi semua SI dari perusahaan-klien atau hanya dari divisi tertentu (Claver et al). Hal ini dapat meliputi pusat data, jaringan luas, pengembangan aplikasi dan pemeliharaan fungsi, komputasi end user dan proses bisnis (Cardinali, 1998).

Menurut Beaumont dan Sohal, bahwa outsourcing merupakan trend yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini. Sedangkan Gibson mengatakan bahwa outsourcing merupakan perpindahan rutinitas usaha ke sumber daya yang ada di luar, dab Brooks mengatakan bahwa outsourcing merupakan upaya untuk mendapatkan barang atas jasa dari supplier luar atau yang beroperasi di luar negri dalam rangka memotong biaya. Terakhir dilihat dari pandangan Bridges dikatakan bahwa ada 3 komponen dari outsourcing : 1). IT, yang merupakan perkembangan dari teknologi informasi, 2). Komunikasi, yang merupakan bagaimana bentuk dari kinerja suatu perusahaan berdasarkan lancar tidaknya komunikasi yang terjalin, 3). Struktur organisasi perusahaan.

Terdapat beberapa literatur (Waheed, U dan Molla, A. 2004)  yang dengan tegas memaparkan tentang nilai outsourcing. Beberapa literatur tersebut menjelaskan manfaat utama dari outsourcing termasuk, pemangkasan biaya  karena skala ekonomi kompetitif dengan vendor eksternal[1] [2]; memungkinkan fokus pada kompetensi inti dan membebaskan sumber daya[3]; menjembatani kesenjangan keterampilan klien[4], dan penambahan nilai strategis[5].

Namun, ada literatur lain yang menantang literatur di atas mengenai manfaat outsourcing. Misalnya, Lacity, 1993 (Waheed dan Molla, 2004:2) menegaskan bahwa tidak ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa penyedia jasa outsourcing akan lebih efisien dari departemen SI internal. Menurut Ikram et al (2002) bahwa dalam jangka panjang, pengembangan aplikasi internal akan lebih murah daripada aplikasi outsourcing. Hal ini karena departemen internal biasanya memiliki keahlian knowledge yang spesifik. Selain itu, mengembangkan aplikasi internal cenderung lebih ­user-friendly dan lebih baik dalam pemeliharaan sistem daripada sistem yang mendapat dukungan dari. Selanjutnya, beberapa penyedia outsource mungkin tidak memiliki efisiensi internal. Jika penyedia layanan tidak memiliki efisiensi, maka tidak mungkin untuk mengharapkan transfer efisiensi untuk klien. Lacity et al (1993) menyatakan bahwa satu kali hasil dari outsourcing adalah biaya yang tidak berkelanjutan dan mungkin akan meningkat karena asimetri kekuasaan yang memungkinkan penyedia layanan untuk membebankan premi tinggi untuk penambahan layanan.

Menurut Hancox dan Hackney (2003) dan Chi-wei et al (2000) dalam Waheed dan Molla (2004), keberhasilan outsourcing (baik dalam bentuk penyelesaian proyek yang sukses atau dalam dari segi biaya yang lebih rendah, kualitas SI yang lebih baik, transfer knowledge dan keuntungan strategis lainnya) bergantung pada kualitas hubungan antara penyedia layanan outsourcing dan klien.

BAB III

PEMBAHASAN

Kebutuhan akan sistem outsourcing yang tidak diimbangi oleh peraturan maupun pengelolaan yang baik dari perusahaan dapat berakibat aplikasi yang dikembangkan Mengikuti tren teknologi. Walaupun alasan ini bukan merupakan alasan utama perusahaan untuk menggunakan layanan penyedia outsourcing, tapi sering dilakukan perusahaan untuk mengikuti kesuksesan perusahaan lain yang lebih dulu menggunakan layanan penyedia outsourcing.

3.1. Keuntungan Pengembangan Sistem Informasi Outsourcing

Perusahaan-perusahaan yang kegiatan usahanya banyak menggunakan dan berhubungan dengan aplikasi teknologi informasi (TI), banyak menggunakan jasa penyedia outsourcing.  Dengan beberapa pertimbangan perusahaan memutuskan untuk menggunakan pengembangan sistem informasi secara outsourcing dengan beberapa keunggulan sebagai berikut :

1. Kemampuan penggunaan teknologi yang tepat dan spesifik

Penyedia outsourcing tentu memiliki keahlian teknologi dan kemampuan spesifik yang dapat mendukung operasi dari sistem teknologi informasi dibutuhkan  perusahaan. Penyedia outsourcing juga memiliki tenaga ahli yang dapat menjalankan dan membuat teknologi tersebut berjalan dengan efisien dan maksimal. Dengan menggunakan jasa dari penyedia outsourcing, perusahaan dapat fokus dengan core business sehingga tidak perlu memikirkan  perkembangan teknologi informasi dan membangun sebuah tim atau departemen untuk mengatasi semua permasalahan yang berhubungan dengan hal tersebut.

2. Efisiensi waktu dan biaya

Implementasi outsourcing akan membawa perusahaan untuk lebih memfokuskan sumber-sumber dayanya untuk mengembangkan atau bertahan dalam kompetisi di lingkungan bisnisnya, perusahaan tidak perlu memikirkan semua masalah yang timbul diluar lingkar utama bisnisnya, mereka dapat menggunakan penyedia outsourcing teknologi informasi untuk mengatasi permasalahan di sekitar teknologi informasi yang merupakan problem-problem diluar lingkar bisnis utama mereka untuk tetap mendukung aktifitas di bisnis utama mereka.

3. Skalabilitas  dan Kemampuan Beradaptasi

Membangun dan memelihara infrastruktur IT membutuhkan banyak waktu. Sektor IT menjadi lebih kompetitif, sehingga mengambil terlalu banyak waktu untuk penerapan satu teknologi akan sangat berisiko. IT outsourcing memungkinkan percepatan adaptasi dan transformasi bisnis Anda terhadap perubahan pasar atau ancaman para pesaing.

4. Kualitas pelayanan dan kemampuan yang maksimal dari tenaga ahli

Penyedia outsourcing teknologi informasi adalah ahli di dalam menjalankan sistem teknologi informasi. Mereka dapat menyediakan pelayanan yang profesional, efektif dan efisien. Tenaga ahli dilingkungan perusahaan sendiri atau tenaga professional information sistem internal akan dibebaskan dari pengurusan operasi setiap hari dan dapat lebih difokuskan untuk perencanaan dan pengembangan sistem teknologi informasi yang akan mendukung bagi aktifitas utama dari perusahaan.

5. Fleksibel

Kemampuan dan pengalaman teknologi informasi dari penyedia outsourcing yang sudah biasa menangani permasalahan di bidang teknologi informasi akan membantu perusahaan untuk dapat selalu melakukan up to date teknologinya tanpa mengeluarkan biaya yang besar. penggunaan teknologi Informasi bagi penunjang aktifitas perusahaan dapat berjalan sefleksibel mungkin, karena penyedia outsourcing dapat dengan cepat mengantisipasi perkembangan teknologi informasi.

3.2. Risiko Pengembangan Sistem Informasi Outsourcing

Pengelolaan outsourcing tidaklah semudah melempar tanggung jawab ke pihak ketiga, sehingga tidak semua perusahaan berhasil dengan baik melakukan outsourcing. Beberapa perusahaan justru harus mengeluarkan sumber daya ekstra untuk mengatasi gagalnya proyek outsourcing karena berbagai sebab, misalnya karena ketidakmampuan perusahaan penyedia jasa outsourcing memenuhi tanggung jawab kualitas layanan yang sudah dijanjikan, atau biaya operasionalnya jauh lebih besar dari perkiraan semula.

Pada banyak kasus outsourcing bidang teknologi informasi, dapat diidentifikasi dua konsekuensi negatif utama dan empat skenario utama. Konsekuensi negatif tersebut adalah:

1. Eskalasi biaya

Eskalasi biaya mengacu pada semua pembengkakan biaya akibat pengerjaan operasi sistem informasi yang berjalan melebihi kontrak awalnya.

2. Penurunan kualitas layanan

Penurunan layanan mengacu pada semua penurunan dalam tingkat layanan dibandingkan apa yang sudah disepakati pada kontrak.

Secara garis besar penggunaan penyedia outsourcing teknologi informasi akan mendatangkan efisiensi dan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan, tetapi tanpa penanganan yang baik. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diputuskan ketika memilih menggunakan outsourcing sebagai sebuah solusi di dalam hal-hal yang berhubungan dengan teknologi informasi yaitu :

1. Ketergantungan

Perusahaan harus memperhatikan fungsi dan tugas dari perusahaan penyedia outsourcing dengan lebih teliti karena perusahaan banyak tergantung dengan perusahaan penyedia outsourcing dalam hal fungsi kerja teknologi informasi. Hal ini untuk menghidari terjadinya pemutusan kontrak kerja karena akan menjadi masalah jika terjadi kesalahan prosedur kerja. Perusahaan selama ini menyerahkan sistem informasinya pada pihak luar sehingga perusahaan harus mengambil waktu yang lama untuk memperbaikinya atau segera mencari peyedia outsourcing lainnya yang lebih baik.

2. Peningkatan biaya

Dari beberapa kasus yang terjadi, perusahaan hanya membuat kontrak untuk jangka waktu yang pendek. Banyak perusahaan terjebak dengan model kontrak sedemikian rupa sehingga untuk dua tahun pertama dari kontrak outsourcing, perusahaan hanya mengeluarkan biaya yang kecil tetapi setelah itu biaya akan meningkat sedemikian rupa. Beberapa penyebabnya adalah:

  • Perusahaan penyedia outsourcing biasanya tidak mencantumkan pendapatan tambahan dalam kontrak yang membolehkan tambahan biaya untuk peningkatan kapasitas diluar dari batas dasar yang telah ditentukan.
  • Perusahaan penyedia outsourcing outsourcing mungkin mengabaikan biaya untuk peningkatan peralatan atau penambahan kapasitas komputer.
  • Jika pelayanan yang direncanakan berubah, biasanya perusahaan penyedia outsourcing akan menambahkan biaya pelayanan baru atau biaya peningkatan pelayanan. Biasanya perusahaan penyedia outsourcing tidak mencantumkan ketentuan ini didalam kontrak secara detail.

Untuk menghindari peningkatan biaya atau biaya tak terduga di dalam kontrak, kontrak harus menjabarkan semua pelanyanan dan aktifitas yang dilakukan dan selain itu kontrak harus menunjukkan sebuah ringkasan dari semua klausul kontak yang berhubungan dengan pembatasan kontraktor untuk menambah biaya untuk penambahan pelayanan. Dengan kata lain, kontrak harus berisikan bagian-bagian yang berhubungan dengan pembaharuan setelah dua tahun pertama dari kontrak.

3. Kemampuan mengatasi situasi darurat

Dalam keadaan darurat, respon dari perusahaan penyedia outsourcing mungkin tidak secepat dari departemen atau tim internal yang tersedia di perusahaan. Biasanya kontraktor akan bekerja seefisien mungkin untuk meningkatkan keuntungan. Kadangkala perusahaan penyedia outsourcing mengkombinasikan kerja dari para kliennya kedalam satu fasilitas atau tim yang dapat beroperasi dengan sedikit peralatan dan staf. Kadangkala situasi ini akan menyebabkan perusahaan penyedia outsourcing tidak dapat mengantisipasi keadaan-keadaan darurat yang tidak terduga karena keterbatasan staf dan peralatan. Sebagai solusi, perusahaan harus memastikan bahwa kontrak yang dilakukan sepenuhnya untuk kegiatan perusahaan tersebut. Perusahaan penyedia outsourcing tidak boleh menyatukan aktifitas yang dikerjakan dengan proyek lainnya.

4. Pemulihan dari situasi berbahaya

Pemulihan dari situasi bahaya dan permulaan outsourcing mungkin dibuat lebih susah oleh perusahaan penyedia outsourcing untuk menyeimbangkan kebutuhan klien dan perkiraan mereka akan keuntungan. Untuk memastikan permulaan outsourcing dapat berjalan dengan baik, kita harus memastikan bahwa perusahaan penyedia outsourcing mempunyai kesanggupan untuk melaksanaan outsourcing tersebut dan proyek itu telah dicoba beberapa kali dalam masing-masing tahun dalam bentuk simulasi atau prototype. Hal ini adalah satu cara untuk memastikan bahwa situasi yang berbahaya pada kontraktor tidak memberikan dampak yang berbahaya juga terhadap perusahaan kelak. Misalnya, ketika ditengah jalan ternyata kontraktor tidak dapat melanjutkan proyek tersebut, jika hal ini terjadi selain akan menghabiskan waktu dan uang bagi perusahaan, kadangkala malah akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi kelangsungan aktifitas bisnis perusahaan.

5. Keamanan informasi

Penggunaan outsourcing pada aplikasi teknologi informasi kadangkala dapat menyebabkan kurangnya kontrol dari fungsi kritis organisasi. Sejak perusahaan penyedia outsourcing dapat mengontrol operasi teknologi informasi perusahaan, perusahaan penyedia outsourcing dapat memiliki akses dari strategi informasi perusahaan. Kadangkala perusahaan dalam kontraknya menemukan bahwa data mereka dan beberapa hal-hal penting, tidak dapat diserahkan kepada kontraktor. Kontrak harus menjelaskan secara jelas tentang kepemilikan data, prosedur dan program yang perusahaan gunakan yang berhubungan dengan kontrak ini. Perusahaan harus memastikan didalam klausul kontrak yang menjelaskan tentang hal ini. Karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa backup dari data dan program disediakan dalam satu tempat pada fasilitas perusahaan. Kontrak juga harus menjelaskan tentang batasan-batasan kerahasiaan informasi yang perusahaan berikan ke kontraktor. Kerusakan atau penggunaan secara illegal oleh kontraktor dan akibat serta penyelesaiannya harus dijelaskan dengan rinci dalam kontrak.

6. Perubahan teknologi

Penyedia outsourcing biasanya tidak akan berhenti untuk mengadopsi teknologi baru jika hal itu akan meningkatkan keuntungan mereka, tetapi kadangkala kontraktor mungkin enggan untuk mengadopsi teknologi baru jika itu tidak meningkatkan profit bagi mereka, salah satu alasan lain, jika kontraktor tidak memiliki keahlian yang memadai akan teknologi tersebut. Jika perusahaan mempunyai komitmen untuk mengikuti perkembangan teknologi, perusahaan harus berhati-hati memasukkan hal ini kedalam kontrak. Karena penggunaan teknologi baru kemungkinan besar akan meningkatkan biaya di dalam pelaksanaannya. Satu hal yang patut perusahaan perhatikan, hendaknya perusahaan dapat mengerti dengan jelas, apakah teknologi tersebut sangat mendukung bagi aktifitas perusahaan atau hanya sekedar produk baru yang dikeluarkan oleh produsen tanpa mempunyai kelebihan yang berarti dibanding produk sebelumnya. Salah satu fungsi tim internal perusahaan adalah memantau aktifitas tersebut diatas.

7. Manajemen pelaksanaan

Walaupun mustahil untuk mengharapkan semua kemungkinan situasi yang mungkin timbul di dalam sebuah kerjasama outsourcing, intisari dari sebuah kontrak outsourcing harus jelas dan detail. Oleh karena itu, kontrak antara perusahaan dan kontraktor harus secara tepat menjelaskan sebanyak-banyaknya kemungkinan, baik kemungkinan pelaksanaan secara umum, kemungkinan-kemungkinan khusus yang bakal terjadi dan bagaimana itu akan diselesaikan dan dipertimbangkan. Oleh karena itu, manajemen pelaksanaan dari outsourcing haruslah seefisien dan seefektif mungkin. Kontrak tidak hanya memuat garis besar pelaksanaan tetapi mencantumkan secara detail seluruh aspek aktifitas yang akan dilakukan.

Masalah Umum Yang Terjadi Dalam Penggunaan Outsourcing

  1. Penentuan partner outsourcing. Hal ini menjadi sangat krusial karena partner outsourcing harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan perusahaan serta menjaga hubungan baik dengan partner outsourcing.
  2. Perusahaan outsourcing harus berbadan hukum. Hal ini bertujuan untuk melindungi hak-hak tenaga outsource, sehingga mereka memiliki kepastian hukum.
  3. Pelanggaran ketentuan outsourcing. Demi mengurangi biaya produksi, perusahaan terkadang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku. Akibat yang terjadi adalah demonstrasi buruh yang menuntu hak-haknya. Hal ini menjadi salah satu perhatian bagi investor asing untuk mendirikan usaha di Indonesia.
  4. Perusahan outsourcing  memotong gaji tenaga kerja tanpa ada batasan sehingga, yang mereka terima, berkurang lebih banyak.

BAB IV

KESIMPULAN

Outsourcing sistem informasi digunakan oleh perusahaan  dengan alasan  untuk meningkatnya nilai perusahaan, meningkatkan fleksibilitas operasi, mengurangi biaya dan perusahaan bisa lebih fokus pada kompetensi inti. Keuntungan pengembangan sistem informasi dengan outsourcing adalah dari segi kemampuan penggunaan teknologi yang tepat dan spesifik, efisiensi waktu dan baiaya,  skalabiltas dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi, kualitas pelayanan dan kemampuan yang maksimal dari tenaga ahli, dan fleksibelitas.

Namun outsourcing juga diikuti oleh munculnya resiko-resiko baru seperti ketergantungan dalam teknologi, peningkatan biaya, rendahnya kemampuan perusahaan dalam mengatasi situasi darurat, ketidakmampuan untuk pemulihan dari situasi berbahaya, kurangnya control terhadap kemanan informasi perusahaan, dan hilangnya kemampuan inovatif perusahaan. Bahkan risiko outsourcing dapat timbul karena kurangnya respon peyedia outsourcing terhadap kebutuhan teknologi perusahaan dan masalah biaya tambahan.

Untuk meminimalisasi risiko yang dapat ditimbulkan, perusahaan harus benar-benar cermat dan teliti ketika membuat kontrak kerja dengan perusahaan outsourcing. Selain itu perusahaan juga harus memilih perusahaan outsourcing yang tepat untuk memenuhi kebutuhan teknologi informasi  perusahaan.

———————————————————————————-

Daftar Pustaka

[1] Gay, Charles E.; James Essinger; Inside Outsourcing: The Insider’s Guide to Managing Strategic Sourcing, London, Nicholas Brealey Publishing, 2000

[2] Teng, J. Cheon, M. and Grover, V. “Decisions to outsource information systems functions: Testing a strategy-theoretic discrepancy model”, Decision Sciences, Volume 26, Number 1, 1995, pp. 75-103.

[3] Thompson, D. Reorganizing MIS: The Evolution of Business Computing in the 1990s, Sams Publishing, New York, 1991.

[4] Udo, G. “Using analytic hierarchy process to analyze the information technology outsourcing decision”, Industrial Management and Data Systems, Volume 100, Number 9, 2000, pp. 421-429.

[5] Heeks, R. (Ed.) Reinventing Government in the Information Age. International Practice in IT-enabled Public Sector Reform, Routledge, London, 2001.

[6] Tereska, J. “Make or buy? Now it is a dataprocessing question too”, Industry Week, Volume 239, Number 14, 1990, pp. 54-55

[7] Ch, Harland; L. Knight; R. Lamming and H. Walker (2005). “Outsourcing: Assessing the Risk and Benefits for Organisations, Sectors and Nations”, International Journal of Operations & ProductionManagement. Vol. 25, No. 9/10, pp. 831-850.

[8] S. Paisittanand and D.L. Olson (2006). “A Simulation Study of IT Outsourcing in the Credit Card Business”, European Journal of Operational Research. Vol. 175, No. 2, pp. 1248-1261.

[9] ] D-H. Yang; S. Kim; Ch. Nam and J-W. Min (2007). “Developing a Decision Model for Business Process Outsourcing”, Computers andOperations Research, Vol. 34, No. 2, pp. 3769-3778

Gonzalez, R., Gasco, J., & Llopis, J. (2009). Information Systems Outsourcing Reasons and Risks: An Empirical Study.International Journal of Social Sciences4(3), 180-191. Retrieved from Academic Source Complete database. (diakses tanggal 9 Juli 2010)

Muhammad Safri Lubis, Medan, Surat Kabar Harian Analisa, 10 Juli 2004. Penggunaan Outsourcing Pada Aktifitas Teknologi  Informasi. http://safri-lubis.info/lecturer/index.php?option=com_content&task=view&id=124&Itemid=47. (diakses tanggal 9 Juli 2010)

Catherine Wright. 2004. Top Three Potential Risks With Outsourcing Information Systems. Information System Control. Journal, volume 5 , 2 0 0 4. Retrieved from Information Systems Audit and Control Association. www.isaca.org. (akses tanggal 8 juli 2010).

Ch, Harland; L. Knight; R. Lamming and H. Walker (2005). “Outsourcing: Assessing the Risk and Benefits for Organisations, Sectors and Nations”, International Journal of Operations & ProductionManagement. Vol. 25, No. 9/10, pp. 831-850.

Waheed, U And Molla, A. (2004) Information Systems Outsourcing Success: A Clientservice Provider Gap Analysis In Pakistan. Journal Of Information Technology Management, Volume XV, Numbers 1-2, 2004