Dwi Fitriani

Just another Student.mb.ipb.ac.id Blogs site
You are currently browsing the Sistem Informasi Manajemen category

Jawaban Akhir Ujian Take Home Sistem Informasi Manajemen

  • Juli 12, 2010 7:49 am

1. Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi?

Pengembangan software adalah Sebuah metodologi pengembangan perangkat lunak (software) mengacu pada kerangka yang digunakan untuk struktur, perencanaan, dan mengontrol proses pengembangan sistem informasi.

Kerangka dari metodologi pengembangan perangkat lunak terdiri dari:

  • Filosofi pengembangan software dengan pendekatan pendekatan dari proses pengembangan perangkat lunak
  • Beberapa alat, model dan metode, untuk membantu dalam proses pengembangan software.

Kerangka kerja ini sering terikat dengan sebuah organisasi, yang mengembangkan lebih lanjut, mendukung penggunaan, dan mempromosikan metodologi yang sering dipromosikan dalam dokumentasi formal.

Pendekatan penggunaan software yang digunakan adalah

1. Waterfall, yaitu proses pengembangan yang saling berutan, dimana pembangunannya mengalir dari atas ke bawah seperti air terjun dan melalui tahap analisis kebutuhan, desain, penerapan, pengujian (validasi), integrasi, dan pemeliharaan.

Prinsip dasar model air terjun adalah:

  • Proyek dibagi menjadi fase yang berurutan, dengan beberapa tumpang tindih dan splashback diterima antara fase.
  • Penekanan adalah pada perencanaan, jadwal waktu, tanggal target, anggaran dan pelaksanaan seluruh sistem pada satu waktu.
  • Kontrol ketat dijaga selama umur proyek melalui penggunaan dokumentasi tertulis yang luas, serta melalui review dan persetujuan formal / signoff oleh pengguna dan manajemen teknologi informasi yang terjadi pada akhir fase yang paling sebelum memulai tahap berikutnya.

2. Prototyping. rangka kegiatan selama pengembangan perangkat lunak untuk menciptakan prototype, yaitu, versi lengkap dari program perangkat lunak yang dikembangkan, dimulai dengan pengumpulan kebutuhan. Pengembang dan pelanggan bertemu dan mendefinisikan obyektif keseluruhan dari software, mengidentifikasi segala kebutuhan yang diketahui, dan area garis besar dimana definisi lebih jauh merupakan keharusan kemudian dilakukan “perancangan kilat”. Perancangan kilat berfokus pada penyajian dari aspek – aspek software tersebut yang akan nampak bagi pelanggan atau pemakai (contohnya pendekatan input dan format output). Perancangan kilat membawa kepada konstruksi sebuah prototipe. Prototipe tersebut dievaluasi oleh pelanggan/pemakai dan dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan software.

3. Spiral, yaitu model proses software yang evolusioner yang merangkai sifat iteratif dari prototipe dengan cara kontrol dan aspek sistematis. Model ini berpotensi untuk pengembangan versi pertambahan software secara cepat. Di dalam model spiral, software dikembangkan di dalam suatu deretan pertambahan.

Model spiral dibagi menjadi sejumlah aktifitas kerangka kerja, disebut juga wilayah tugas, di antara tiga sampai enam wilayah tugas, yaitu :

  • Komunikasi Pelanggan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif di       antara pengembangan dan pelanggan.

  • Perencanaan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sumber – sumber daya,       ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yang berhubungan.

  • Analisis Risiko

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk menaksir risiko – risiko, baik manajemen     maupun teknis.

  • Perekayasaan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk membangun satu atau lebih representasi     dari aplikasi tersebut.

  • Konstruksi dan peluncuran

Tugas – trugas yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji, memasang         (instal) dan memberikan pelayanan kepada pemakai (contohnya pelatihan dan            dokumentasi).

  • Evaluasi pelanggan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk memperoleh umpan balik dari pelanggan     dengan didasarkan pada evaluasi representasi software, yang dibuat selama     masa perekayasaan, dan diimplementasikan selama masa pemasangan.

Pengembangan Sistem Informasi.

Pengembangan sistem informasi sering disebut sebagai proses pengembangan sistem (System Development). Pengembangan sistem didefinisikan sebagai aktivitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis komputer untuk menyelesaikan persoalan (problem) organisasi atau memanfaatkan kesempatan (opportunities) yang timbul.

Dalam pengembangan sebuah sistem informasi, menggunakan  konsep SDLC (system development life cycle). Secara global definisi SDLC dapat dikatakan sebagai suatu proses berkesinambungan untuk menciptakan atau merubah sebuah sistem, merupakan sebuah model atau metodologi yang digunakan untuk melakukan pengembangan sistem. Dapat dikatakan dalam SDLC merupakan usaha bagaimana sebuah sistem informasi dapat mendukung kebutuhan bisnis, rancangan & pembangunan sistem serta delivering-nya kepada pengguna.

Secara umum, tahapan SDLC meliputi proses :

  1. Planning. Proses perencanaan biasanya lebih menekankan pada alasan mengapa sebuah sistem harus dibuat.
  2. Analysis Tahapan perencanaan ini kemudian dilanjutkan dengan proses analisis yang lebih menekankan pada siapa, apa, kapan dan dimana sebuah sistem akan dibuat.
  3. Design. Sedangkan pada proses desain lebih menekankan kepada bagaimana sistem akan berjalan.
  4. Implementation. Tahap terakhir dilanjutkan dengan fase implementasi yaitu prosesdelivery-nya kepada pengguna.

Beberapa metodologi yang biasa dikenal antara lain Structural Design, Rapid Application Development (RAD) dan Agile Development.

  1. Structural design. Yaitu sebuah metode pengembangan sistem dimana antara satu fase ke fase yang lain dilakukan secara berurutan. Biasanya sebuah langkah akan diselesaikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke fase berikutnya. Keuntungan menggunakan metodologi ini requirement harus didefinisikan lebih mendalam sebelum proses coding dilakukan. Disamping itu metodologi ini memungkinkan sesedikit mungkin perubahan dilakukan pada saat proyek berlangsung. Namun, metodologi ini juga mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya desain harus komplit sebelum programming dimulai, serta jika terjadi fase yang terlewati, maka biaya yang akan ditimbulkan akan lumayan besar.

Bagian dari metodologi ini antara lain Waterfall Modeling dan Parallel Development. Berbeda dengan Waterfall Modeling, Parallel Development memungkinkan beberapa fase dilakukan secara bersama-sama untuk mempersingkat waktu.

1. Rapid Application Development (RAD)

Metodologi ini melakukan beberapa penyesuaian terhadap SDLC pada beberapa bagian sehingga lebih cepat untuk sampai ke tangan pengguna. metodologi ini biasanya mensyaratkan beberapa teknik dan alat2 khusus agar proses bisa cepat, misalnya melakukan sesijoint application development (JAD), penggunaan alat-alat computer aided software engineering (CASE Tools), code generator dan lain-lain.

Beberapa kategori RAD

Misalnya Phased Development, Prototyping dan Throw-away PrototypingPhased Development membagi sistem secara keseluruhan menjadi beberapa versi sistem. Setelah desain untuk versi pertama selesai maka akan dilanjutkan ke implementasi. Setelah versi pertama terselesaikan, maka pengembang akan memulai lagi ke versi selanjutnya.
Metodologi prototyping melakukan analisis, desain dan implementasi secara bersamaan, kemudian dilakukan secara berulang-ulang untuk mendapat review dari pengguna. Sebuah prototiping adalah sebuah sistem dalam fungsi yang sangat minimal.

Sedangkan metodologi Throwaway Prototyping hampir sama dengan metodologi Prototyping. Perbedaannya bahwa pada metodologi ini, analisis dilakukan lebih mendalam lagi.

Agile Development

Bisa dikatakan ini merupakan metodologi yang lebih cepat dalam pengembangan sebuah sistem informasi. Metodologi ini melakukan perampingan pada proses pemodelan dan pembuatan dokumentasi. Pengembangan metodologi ini adalah eXtreme Programming danScrum.

2. Seringkali terjadi suatu kesalahan besar yang berakibat fatal pada organisasi,ketika mereka melakukan pengalihan/konversi dari suatu sistem lama ke sistem baru. Jelaskan mengapa fenomena ini terjadi? Jelaskan pula berbagai cara dalam pengkonversian sistem, dengan berbagai asumsinya agar kesalahan tersebut tidak terjadi.

Konversi sistem adalah Adalah proses organisasional terhadap perubahan sistem informasi lama ke sistem baru.

Faktor-faktor Yang Dipertimbangkan Menurut Loudan Dalam Mengukur Keberhasilan Penerapan Sistem :

  1. Sistem tersebut tingkat penggunaannya relatif tinggi (High Levels of System Use)
  2. Kepuasan para pengguna terhadap sistem (Users Satisfaction With The Systems)
  3. Sikap yang menguntungkan (Favourabel Attitude) para pengguna terhadap sistem informasi & staff dari sistem informasi.

Fenomena kegagalan pada konversi sistem terjadi karena:

1.  Sistem yang dikembangkan tidak atau kurang sesuai dengan keinginan user, karena proses investigasi ,analisa  design  sistem yang dikembangkan kurang tajam.

2.  Adanya perilaku yang  cenderung menolak atau sulit menerima setiap perubahan dalam organisasi perusahaan, khususnya yang sistem informasi  baru yang memerlukan peningkatan pengetahun dan keterampilan.

3.  Adanya kekhawatiran dari karyawan perusahaan apabila sistem informasi baru  (komputerisasi)  diimplementasikan akan terjadi ‘lay-off’ karyawan perusahaan.  (pengurangan pegawai)..

4.  Tidak dibarengi dengan  ‘business re-engineering process’, sehingga sistem komputerisasi kurang memberikan dampak effisiensi dan efektivitas yang maksimal bagi perusahaan.

5.  Perencanaan aktivitas implementasi tidak dipersiapkan secara comprehensive dan integrated yang  meliputi aktivitas :

  • Hardware, software and services acquisition.
  • Software development  or modification
  • End user training
  • System documentation
  • Conversion methode : pilot project,  paralllel cut-over, phase-in cut over, direct cut over (plunge).

Konversi system merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan IT dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari system lama ke sistem baru. Derajad kesulitan dan kompleksitas dalam pengkonversian dari system lama ke sistem baru tergantung pada sejumlah faktor. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Jika Konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendaii baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedumya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.

METODE UNTUK MENGKONVERSI SISTEM

Ada empat metode konversi sistem, yaitu :

1. Konversi Lansung (Direct Conversion).

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah.

Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang kadang-kadang disebut pendekatan cold turkey.

Apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama.

Pendekatan atau cara konversi ini akan bermanfaat apabila :

  • Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain
  • Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai
  • Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanyaRancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem-sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan dari konversi langsung adalah metode ini relatif tidak mahal, namun memiliki risiko kegagalan yang tinggi.

Apabila konversi langsung akan digunakan, aktivitas-aktivitas pengujian dan pelatihan yang dibahas sebelumnya akan mengambil peran yang sangat penting.

2. Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua sistem sekaligus.

Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama  dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu. Ia kebalikan dari konversi langsung. Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing sistem tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

Kelebihan :

Memberikan derajad proteksi yang tinggi kepada organisasi dari kegagalan sistem baru.

Kelemahan :

Besarnya biaya untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

Ketika proses konversi suatu sistem baru melibatkan operasi paralel, maka orang-orang pengembangan sistem harus merencanakan untuk melakukan peninjauan berkala dengan personel operasi dan pemakai untuk mengetahui kinerja sistem tersebut. Mereka harus menentukan tanggal atau waktu penerimaan dalam tempo yang wajar dan memutus sistem lama.


3. Konversi Bertahap (Phase-In Conversion).

Konversi dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung.

Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit mengganti yang lama.

Ia menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan.

Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi.

4. Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah.

Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru.

Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi.

3. Apa urgensi maintainability dari suatu software?

Maintainability software  merupakan kemudahan suatu software untuk di mengerti, diperbaiki, diadaptasi dan/atau dikembangkan.  Dibawah ini terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan lingkungan pengembangan software, diantaranya :

  1. Ketersediaan tenagga ahli software yang berpotensi
  2. Struktur sistem yang mudah dipahami.
  3. Penanganan sistem yang mudah.
  4. Bahasa program yang standar
  5. Sistem operasi standar
  6. Struktur dokumentasi  terstandarisasi
  7. Ketersediaan kasus uji
  8. Tersedianya fasilitas debugging
  9. Komputer yang tepat untuk proses mainatin.

    Sealin itu juga diperlukan ketersediaan karyawan dan tim yang dapat mengembangkan proyek. Faktor-faktor tersebut merefleksikan sumberdaya hardware, software yang digunakan selama pengembangan.

    Faktor yang paling penting yang mempengaruhimaintainability adalah rencana untuk maintainability. Jika software dilihat sebagai elemen sistem yang akan diubah sewaktu-waktu, maka software yang berkemampuan untuk dipelihara akan dibuat.

    4. Jelaskan tentang ERP (Enterpraise resource planning) dan bagaimana implementasi sistem informasi berbasi ERP.

    ERP (enterprise resource planning) atau Perencanaan sumber daya perusahaan adalah sistem informasi terpadu yang diperuntukkan  untuk mengelola sumber daya internal dan eksternal termasuk aset berwujud, sumber daya keuangan, bahan, dan sumber daya manusia. ERP  merupakan  arsitektur perangkat lunak yang bertujuan untuk memfasilitasi aliran informasi antara semua fungsi bisnis di dalam batas-batas organisasi dan mengelola koneksi ke stakeholder di luar.

    Tujuan dari implementasi ERP adalah menyatukan semua divisi yang ada dalam perusahaan menjadi satu sistem yang dapat dikendalikan secara terpusat. ERP lebih ditujukan pada sistem back-office, dimana sistem ERP tidak bersentuhan secara langsung dengan konsumen.

    Gambaran ERP adalah sebagai berikut[1]:

    • Sistem ERP adalah suatu paket perangkat lunak yang didesain untuk lingkungan pelanggan pengguna server, apakah itu secara tradisional atau berbasis jaringan.
    • Sistem ERP memadukan sebagian besar dari proses bisnis.
    • Sistem ERP memproses sebagian besar dari transaksi perusahaan.
    • Sistem ERP menggunakan database perusahaan yang secara tipikal menyimpan setiap data sekali saja.
    • Sistem ERP memungkinkan mengakses data secara waktu nyata (real time).
    • Dalam beberapa hal sistem ERP memungkinkan perpaduan proses transaksi dan kegiatan perencanaan.
    • Sistem ERP menunjang sistem multi mata uang dan bahasa, yang sangat diperlukan oleh perusahaan multinasional.
    • Sistem ERP memungkinkan penyesuaian untuk kebutuhan khusus perusahaan tanpa melakukan pemrograman kembali.

    Tahap paling awal dari implementasi ERP adalah membangun bisnis proses yang baik. Selain itu, kesiapan karyawan akan perubahan sistem merupakan salah satu hal yang harus diperhitungkan. Rancangan ERP yang sempurna tidak akan membantu jika tidak dijalankan dengan baik. Yang harus diingat adalah tidak semua perusahaan membutuhkan ERP dalam sistemnya. Karena proses bisnis setiap perusahaan bersifat unik, sehingga ERP dalam satu perusahaan belum tentu dapat digunakan pada sistem di perusahaan yang lain, atau perbaikan proses bisnis dalam perusahaan cukup untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

    Berikut ini adalah beberapa komponen yang mempengaruhi implementasi ERP.

    a. Pihak Manajemen dan karyawan

    Dukungan dari pihak manajemen merupakan faktor utama kesuksesan implementasi IT dalam perusahaan. IT harus berjalan seiring dengan proses bisnis perusahaan dan karyawan juga memegang peranan yang penting dalam keberhasilan implementasi ERP. Karyawan harus dipersiapkan untuk perubahan ‘besar’ yang akan terjadi, bila perlu karyawan diikut sertakan dalam tahap analisis proses bisnis, sehingga terbangun rasa memiliki yang kuat terhadap sistem baru. Dengan demikian, ketika implementasi benar-benar dijalankan, karyawan telah siap dan memiliki kemauan untuk belajar dan mendukung keberhasilan ERP tersebut. ERP tidak selalu identik dengan perampingan karyawan. Pemikiran ini yang dapat menyebabkan karyawan antipasti terhadap perubahan ke sistem ERP, karena merasa posisinya terancam dengan kemudahan yang ditawarkan ERP.

    b. Bisnis proses

    Untuk membangun sistem ERP, bisnis proses harus disusun dengan jelas dan tepat. Tanpa proses bisnis yang benar, sistem apapun yang diterapkan tidak akan mampu memperbaiki keadaan perusahaan. Dalam membangun sistem ERP, sebaiknya batasan sistem yang akan dibangun jelas, sehingga implementasi ERP tidak berkembang ke hal-hal yang tidak diperlukan.

    c. Vendor

    Vendor adalah perusahaan yang menyediakan paket sistem ERP yang akan diimplementasikan di perusahaan. Selain menyediakan software dan hardware, vendor juga harus memberikan pelatihan pada karyawan perusahaan yang menggunakan jasanya, agar karyawan terbiasa dengan sistem IT yang baru, dan memastikan sistem yang baru ini berjalan sesuai dengan permintaan perusahaan dan sesuai dengan proses bisnisnya. Vendor yang baik memiliki respon yang cepat terhadap masalah yang dihadapi perusahaan maupun error yang terjadi pada sistem. Sebelum menentukan vendor mana yang akan digunakan, sebaiknya perusahaan benar-benar menyelidiki latar belakang dan profil dari vendor tersebut. Hal ini perlu dilakukan karena kerja sama ini biasanya dilakukan dalam jangka panjang, dan jika perusahaan salah memilih vendor, akan merugikan bagi perusahaan itu sendiri.

    d. Dukungan dari tim IT

    dukungan dari tim IT sangat dibutuhkan untuk memegang kendali dalam proses migrasi data, membuat report yang diperlukan perusahaan, membuat setting user permission dan training kepada user yang membutuhkan. Untuk memiliki tim Implementasi ERP yang solid, otomatis harus dibentuk dari bagaimana memotivasi tim IT supaya mau dan mulai menyenangi mengerjakan hal-hal diatas. Setelah proses motivasi itu tercapai, otomatis tim IT akan solid dan pekerjaan-pekerjaan terkait implementasi NAV akan bisa selesai dengan cepat dan benar.

    Keuntungan dan Kerugian ERP

    Keuntungan dari implementasi ERP antara lain:

    – Integrasi data keuangan. Oleh karena semua data disimpan secara terpusat, maka para eksekutif perusahaan memperoleh data yang up-to-date dan dapat mengatur keuangan perusahaan dengan lebih baik.

    – Standarisasi Proses Operas. ERP menerapkan sistem yang standar, dimana semua divisi akan menggunakan sistem dengan cara yang sama. Dengan demikian, operasional perusahaan akan berjalan dengan lebih efisien dan efektif.

    – Standarisasi Data dan Informasi. Database terpusat yang diterapkan pada ERP, membentuk data yang standar, sehingga informasi dapat diperoleh dengan mudah dan fleksibel untuk semua divisi yang ada dalam perusahaan.

    Keuntungan diatas adalah keuntungan yang dapat dirasakan namun tidak dapat diukur. Keberhasilan implementasi ERP dapat dilihat dengan mengukur tingkat Return on Investment (ROI), dan komponen lainnya, seperti:

    – Pengurangan lead-time

    – Peningkatan kontrol keuangan

    – Penurunan inventori

    – Penurunan tenaga kerja secara total

    – Peningkatan service level

    – Peningkatan sales

    – Peningkatan kepuasan dan loyalitas konsumen

    – Peningkatan market share perusahaan

    – Pengiriman tepat waktu

    – Kinerja pemasok yang lebih baik

    – Peningkatan fleksibilitas

    – Pengurangan biaya-biaya

    – Penggunaan sumber daya yang lebih baik

    – Peningkatan akurasi informasi dan kemampuan pembuatan keputusan.

    Kerugian yang mungkin terjadi ketika salah menerapkan ERP antara lain adalah:

    – Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan pengembangannya

    – Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran

    – Karyawan tidak siap untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru

    – Persiapan implementation tidak dilakukan dengan baik

    – Berkurangnya fleksibilitas sistem setelah menerapkan ERP

    Kerugian diatas dapat terjadi ketika:

    – Kurangnya komitmen top management, sehingga tim IT kurang mendapat dukungan pada rancangan sistemnya. Hal ini bisa muncul karena ketakutan tertentu, seperti kawatir data bocor ke pihak luar. Selain itu, anggapan bahwa implementasi ERP adalah milik orang IT juga dapat membuat kurangnya rasa memiliki dari top management dan karyawan divisi lain. Padahal, implementasi ERP sebenarnya adalah suatu proyek bisnis, dimana IT hadir untuk membantunya.

    – Kurangnya pendefinisian kebutuhan perusahaan, sehingga hasil analisis strategi bisnis perusahaan tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Perusahaan sebaiknya menentukan dari awal, apakah perusahaan akan mengikuti standar ERP atau sebaliknya.

    – Kesalahan proses seleksi software, karena penyelidikan software yang tidak lengkap atau terburu-buru memutuskan. Hal ini bisa berakibat pada membengkaknya waktu dan biaya yang dibutuhkan.

    – Tidak cocoknya software dengan business process perusahaan.

    – Kurangnya sumber daya, seperti manusia, infrastruktur dan modal perusahaan.

    – Terbentuknya budaya organisasi yang berada dalam zona nyaman dan tidak mau berubah atau merasa terancam dengan keberadaan software (takut tidak dipekerjakan lagi).

    – Kurangnya training dan pembelajaran untuk karyawan, sehingga karyawan tidak benar-benar siap menghadapi perubahan sistem, dimana semua karyawan harus siap untuk selalu menyediakan data yang up-to-date.

    – Kurangnya komunikasi antar personel.

    – Cacatnya project design dan management.

    – Saran penghematan yang menyesatkan dari orang yang tidak tepat.

    – Keahlian vendor yang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

    – Faktor teknis lainnya, seperti bahasa, kebiasaan dokumentasi cetak menjadi file, dan lain sebagainya.


    [1] Heryanto, D. (2009) ERP dan Penerapannya [Online] Available at:http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_1092/title_erp-dan-penerapannya/ (diakses tanggal 11 Juli 2010).

    Peranan dan Risiko Pengembangan Sistem Informasi dengan Outsourcing

    • Juli 11, 2010 6:42 pm

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Penerapan Sistem Informasi pada sebuah organisasi khususnya diyakini dapat meningkatkan daya saing dengan cara memberikan nilai tambah pada produk dan layanan yang dihasilkannya. Peningkatan daya saing ini sangat diperlukan mengingat tantangan yang muncul akibat penerapan sistem perdagangan bebas menuntut setiap bisnis untuk bisa menghasilkan produk dan layanan yang lebih berkualitas dengan harga murah.

    Dalam era yang semakin kompetitif, proses digitalisasi perusahaan tampaknya tidak dapat ditawar lagi. Persoalannya, upaya apa yang dapat ditempuh perusahaan agar dapat diperoleh aplikasi Sistem Informasi (SI) untuk menjamin aliran data dan informasi secara kontinyu. Sedikitnya ada tiga alternatif yang secara umum dapat diterapkan untuk memperoleh SI tersebut, antara lain 1) membeli aplikasi jadi, 2) insourcing dan 3) outsourcing. Dari ketiga alternatif tersebut, tampaknya outsourcing paling tepat untuk diterapkan bagi perusahaan yang memiliki prosedur yang unik, tetapi memiliki keterbatasan waktu dan tenaga ahli, serta kedisiplinan anggaran  untuk menghasilkan sistem yang standar.

    Penggunaan sistem teknologi informasi pada organisasi masa kini cenderung menggunakan sisem outsourcing dan mulai meninggalkan pengembangan sistem teknologi informasi secara inhouse. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh MetaGroup pada tahun 2003, hal terutama disebabkan karena organisasi modern cenderung bersifat ramping dan mengejar efektifitas dan efisiensi, sehingga organisasi cenderung untuk lebih fokus kepada core business-nya.

    Peningkatan kebutuhan IT telah merubah konsep tradisional menjadi konsep yang lebih modern. Konsep tradisional menyatakan, semua aktivitas perusahaan akan dikerjakan secara internal, sedangkan konsep modern menyatakan akan semakin sedikit operasional kerja yang dilakukan secara internal (Burn dan Ash, 2000; Georgantzas, 2001; Tetteh dan Burn, 2001). Konsep modern tersebut menggambarkan bahwa fungsi bisnis dalam perusahaan yang memberikan keunggulan bersaing saja yang harus dikerjakan secara internal, namun fungsi bisnis lainnya dalam perusahaan dapat dlakukan secara outsourcing (Ching et al. 1996). Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan perusahaan secara outsourcing diantaranya adalah aktivitas bisnis yang berhubungan dengan sistem informasi manajemen (Reyes, et al. 2005).